Wawancara dan Liputan di Media Cetak
Teknik wawancara berita
Wawancara media cetak adalah tanya jawab antara reporter media cetak dengan narasumber dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan atau keterangan dari narasumber tersebut. narasumber diwawancarai karena dua alasan, yaitu : pertama, karena narasumber dianggap menguasai permasalahan. Kedua, karena ia terlibat langsung atau tidak langsung (hanya menyaksikan) dengan kejadian atau peristiwa yang menjadi topik pembicaraan. Jadi, tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan keterangan langsung dari sumber berita yaitu keterangan aktual dari pelaku atau saksi suatu peristiwa yang bernilai berita.
Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai persiapan wawancara, yaitu:
Teknik peliputan berita
Terdapat tiga teknik peliputan berita, diantaranya:
Wawancara media cetak adalah tanya jawab antara reporter media cetak dengan narasumber dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan atau keterangan dari narasumber tersebut. narasumber diwawancarai karena dua alasan, yaitu : pertama, karena narasumber dianggap menguasai permasalahan. Kedua, karena ia terlibat langsung atau tidak langsung (hanya menyaksikan) dengan kejadian atau peristiwa yang menjadi topik pembicaraan. Jadi, tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan keterangan langsung dari sumber berita yaitu keterangan aktual dari pelaku atau saksi suatu peristiwa yang bernilai berita.
Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.
- Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware yang diperlukan.
- Teknik substansial – teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai persiapan wawancara, yaitu:
- Melakukan riset sebelum wawancara dilakukan. Riset ini dapat dilakukan dengan membaca literatur yang berkaitan dengan tema apa yang akan diwawancara dan siapa juga yang akan diwawancarai. Selain itu juga, dengan membuka arsip berita yang berhubungan dengan tema apa yang akan diwawancara.
- Usahakan menyusun pertanyaan dengan baik. Jika wawancara singkat, maka lebih baik langsung pada pokok persoalan, namun sebaliknya jika ada waktu yang cukup panjang untuk melakukan wawancara maka lebih baik wawancara diawalidengan pertanyaan dasar kemudian berlanjut pada pertanyaan pokok.
- Harus ada persiapan jika pertanyaan dijawab tidak sesuai harapan. Misalnya ada narasumber yang saat diwawancarai hanya menjawab “ya” dan “tidak”. Dalam sebuah wawancara, jawaban yang seperti ini bukanlah jawaban yang relevan. Untuk itu, sebelum wawancara harus ada persiapan pengembangan gagasan bila pertanyaan yang diajukan dalam wawancara tidak sesuai harapan. Ini berarti harus ada rencana (plan)A dan B yang telah disiapkan.
- Berani mengambil keputusan. Dalam wawancara yang dilakukan secara mendadak tanpa ada persiapan khusus seperti karena ada momentum, maka reporter harus berani melakukan spontanitas dalam mengambil keputusan dalam wawancara.
- Dalam situasi tertentu, reporter sebelum wawancara sudah menjalin kontak komunikasi dengan narasumber yang akan diwawancarai. Jika tidak memungkikan untuk menjalin kontak komunikasi dengan narasumber karena narasumber sibuk atau pejabat yang susah dihubungi, maka reporter dapat menghubungi staf atau ajudannya.
Teknik peliputan berita
Terdapat tiga teknik peliputan berita, diantaranya:
- Reportase (pencarian), wartawan mendatangi lokasi peristiwa atau kejadian. Setiba di lapangan, wartawan segera mengumpulkan data dan informasi sebanyak-banyaknya.
- Wawancara, sebelum melakukan wawancara wawancara dengan narasumber. Wartawan harus menyediakan alat tulis dan tape recorder, kemudian merumuskan pertanyaan. Setelah itu, wartawan melakukan tanya jawab dengan saksi mata dan sumber lainnya yang terkait dalam suatu peristiwa. Namun, apabila informasi yang didapat saat liputan belum cukup, maka wartawan dapat mencari data dari tempat lain atau pihak-pihak terkait.
- Riset kepustakaan dan kantor berita. Untuk memperdalam isi berita, wartawan dapat mencari kelengkapan berita dari riset kepustakaan dan kantor berita. Seperti menggunakan fasilitas internet, makalah dan kliping, atau dengan cara membeli berita dari kantor berita.
Komentar
Posting Komentar